(Penelitian Kolaboratif IAIN Takengon dan UIN Sumatera Utara Tahun 2023)

MENAPAK JEJAK ISLAM DI TANAH KARO DAN TANOH GAYO

Redaksi | Jumat, 18 Agu 2023   08:39:22 WIB dibaca 493 x komentar 0  Penelitian
MENAPAK JEJAK ISLAM DI TANAH KARO DAN TANOH GAYO

   Perkembangan Islam di pegunungan atau dataran tinggi bukit barisan Sumatera telah menarik perhatian sejumlah peneliti. Berbagai aspek dan keunikan penyebaran dan perkembangan Islam telah diungkap dan dipublikasikan, meskipun dalam jumlah yang masih sangat terbatas. Aspek-aspek yang menampilkan kekhasan dalam dinamika perkembangan Islam di dataran tinggi bukit barisan masih menyisakan ruang untuk diungkap lebih lanjut. Salah satu sisi yang sampai saat ini masih menyisakan pertanyaan dan keingintahuan sejumlah ilmuan terkait bagaimana kesinambungan dan jalur persebaran Islam yang menghubungkan antara tanoh Gayo dan tanah Karo. Dalam legenda-legenda rakyat atau hikayat yang sering dikutip bahwa Gayo dan Batak Karo memiliki hubungan sangat kuat. Bahkan terdapat legenda atau hikayat yang menyatakan bahwa Gayo berasal dari Batak Karo. Hal ini misalnya tercermin dalam ungkapan bahwa Gayo berasal dari keturunan Batak 27 dengan tokoh utamanya Lebe Kader. Nama ini bahkan disematkan sebagai nama salah satu jalan utama di kota Takengon. Pada sisi lain, berdasarkan penelusuran awal dan hasil konfirmasi yang dilakukan di Tanah Karo diperoleh informasi bahwa persebaran Islam di Tanah Karo justru berasal dan melibatkan peran ulama atau penyebar Islam yang berasal dari Tanoh Gayo melalui jalur Kutacane dan kiprah penyebar Islam lain dari Barus. Jejak-jejak penyebaran Islam yang menghubungkan antara tanoh Gayo dan Karo ini membuka ruang diskusi dan mendorong dilakukannya penelusuran dengan mengacu pada mitos (sebagaimana termuat dalam legenda atau hikayat), situs (tempat-tempat bersejarah berupa makam, masjid, lembaga pendidikan, dan lain-lain), dan juga ritus (praktek atau amalan keagamaan) yang tersebar dalam komunitas muslim di Tanoh Gayo dan Karo.
   Untuk merajut dan merekonstruksi kembali data, informasi dan pengetahuan lokal yang semakin terbatas jumlahnya terkait pola, jalur dan dinamika penyebaran Islam di kawasan tersebut (tanoh Gayo dan Tanah Karo), Tim Penelitian Kolaboratif Perguruan Tinggi dari IAIN Takengon dan UIN Sumatera Utara telah melakukan serangkaian aktivitas. Pada paruh pertama Agustus 2023, Tim Peneliti memfokuskan penelusuran bahan-bahan kepustakaan di sejumlah perpustakaan di Sumatera Utara. Bermodal informasi yang sangat terbatas yang berhasil diperoleh di berbagai institusi tersebut, sejak tanggal 13 Agustus 2023 Tim Peneliti telah melakukan pengumpulan data lapangan dengan melakukan penelusuran ke sejumlah situs dan informan-informan terpilih untuk mengungkap dinamika penyebaran Islam di Tanah Karo.   Pada tanggal 15 Agustus 2023, Tim Peneliti melakukan penelusuran jejak islam di Tanah Karo dengan melakukan kunjungan ke Masjid Awal yang terletak di Lau Cimba, Kabanjahe. Masjid yang dibangun pada tahun 1902 dan selesai pada tahun 1904 ini masih berdiri kokoh dan rutin digunakan untuk pelaksanaan ibadah, khususnya shalat fardhu secara berjamaah. Terletak di tengah perkampungan penduduk dan dikeramaian pasar yang padat, masjid yang telah dimakmurkan secara turun-temurun oleh para penyebar Islam awal di tanah Karo ini telah menarik perhatian sejumlah peminat sejarah perkembangan Islam di Karo. Pada kesempatan tersebut, Tim Peneliti berkesempatan untuk melakukan wawancara mendalam dalam suasana penuh keakraban dengan pengurus Masjid bernama Muhammad Sidiq Tarigan yang kini telah berusia 72 tahun. Menurut penuturannya, beliau telah bertindak sebagai penanggungjawab pengelola dan sekaligus bersama masyarakat sekitarnya dalam memakmurkan masjid ini sejak tahun 1980.